Ketimun yang Mati

Aku suka ketimun. Ketimun itu segar. Apalagi di siang hari yang panas. Benar kan? Aku rasa kau pasti berkata setuju. Dan kadang aku berkeinginan membuat GERAKAN PECINTA KETIMUN ( GPK). Aku rasa itu keren.
Aku tidak boleh makan ketimun. Ketimun itu akan memberiku hadiah sekotak kematian seperti menemukan cincin dalam sabun mandi padat, setidaknya itu yang dikatakan Ibu kepadaku. Katanya aku mengidap penyakit darah rendah, yang sebenarnya aku tidak pernah tahu pasti apa itu darah rendah. Aku harus sering makan daging atau hati binatang yang katanya bisa menambah darah, walaupun aku tidak pernah yakin itu akan berhasil. Menurutku untuk menambah darah ya, aku seharusnya minum darah.
Siang hari ini aku pergi bersama temanku, Neysha. Kita makan lotek, makanan dari sayur-sayuran yang direbus lalu dicampur dengan sambal kacang yang gurih. Uhm, lezat sekali apalagi panas-panas begini dan perut lapar, nyum-nyum. Aku makan dengan lahap, entah mengapa aku selalu melakukannya. Mungkin karena ibuku selalu bilang kalau orang yang makannya cepat, kerjanya akan cepat pula. Habis!
” Mel, katanya kamu ga boleh makan ketimun?” kata Nesya yang baru menghabiskan seperempat loteknya.
” Iya! Emang kenapa?”
” Nih! Punyaku banyak sekali timunnya terlalu berair!”
” Ah, sekali-kali nggak apa-apa.”
Aku terkejut sekali. Ketimun yang telah ada di pertku ini adalah bom yang siap meledak. Kalau aku makan sedikit mungkin tidak apa apa. Tapi masalahnya, timun yang disajikan itu melebihi seperempat porsi. Rasanya kematian semakin dekat denganku. Apa yang harus aku lakukan? Memuntahkannya? Tidak mungkin! Orang-orang akan mengira aku pengidap bulimia. Nggak mau!
” Kenapa Mel?”
” Nggak apa-apa. Eh ya, kamu bawa duit berapa? Aku ingin makan sate kambing yang banyak.”
” Katanya ga suka daging? Lagi ngidam ya? Anak siapa diperutmu?” , Neysha berkata keras-keras sampai-sampai seluruh isi warung berhenti makan dan memandang ke arah kami berdua. Mati aku!. 10 detik hening. Orang-orang melanjutkan kegiatannya. Dasar Neysha! Aku ingin memjejali mulutmu dengan tisu.
” Shh…. Malu, tahu!”
” Masih punya malu ? Heheheh.”
” Aku pengen makan sate ni! Tapi nggak bawa duit.”
” Ada sih, tapi aku nggak mau ikut makan. Aku nggak mau program dietku ini hancur. Lagian kamu sih, nyari sate jam segini. Sate jam segini tu nggak ada yang enak. Yang enak tuh, yang di jalanan kalau malem itu lho!”
” Udah tahu! Tapi da kebelet ni.” Tentu saja aku kebelet! Aku tidak bisa membiarkan ketimun itu masuk ke ususku dan meracuni jantungku. Tidak!. aku tak mau mati muda. Aku belum laku.
” Tunggu bentar ya! Sayang, belum habis. Pamali kalau nggak dihabisin.”
Aku mencari sepanjang jalan A. Yani. Untungnya ada yang buka dan kelihatanya enak. Semoga, maksudnya. Aku memesan 20 tusuk sate kambing. Neysha punya ekspresi yang aneh kalau lagi mupeng. Matanya seperti melihat gundukan emas, bersinar dan berkaca-kaca. Aku sedikit merasa senang akan pernderitaannya. Makan tu diet!, pikirku.
Yang aku benci dari warung ini cuma satu, mereka menyediakan acar ketimun secara cuma-cuma. Oh, tidak! Aku tidak boleh memakannya. Untungnya satepun datang.
” Mbak, silahkan. Enak lho kalau pake acar timunnya.”
” Makasih Mas.”
Oh ketimunku sayang…. Sorry, I can’t eat you, if I were high pressure blood. (Aku ragu aku mengartikannya dalam bahasa inggris secara benar). Aku terperanjak. Aku heran, kenapa warung ini disebut warung sate. Padahal yang mereka bakar itu ketimun. Oh, tidak mungkin!. Aku menepuk-nepuk pipiku. Untunglah, Cuma halusinasi. Satenya masih sate kambing dan genap 10 tusuk. Hai kematian! Enyahlah dari hadapanku. Aku membayangkan kambing di perutku sedang bertarung melawan ketimun-ketimun. Hahaha. Sejenak aku memandang mupengnya Neysha. Aku merasa geli. Seharusnya dia tak perlu melakukan diet yang sinting itu, hanya akan menyiksa tubuh dan pikirannya.
Hari yang mengasikkan, pikirku. Aku dan Neysha memutuskan untuk pergi ke supermarket, membeli sedikit makanan, mungkin.
Aku suka sekali pergi ke supermarket. Aku suka berjalan di lorong-lorong, dikelilingi dan memilih barang-barang yang harus di beli, mendorong kereta belanja dan memborong barang diskon. Seandainya tiap hari adalah awal bulan. Hal aneh terjadi di sini, semua sayuran yang berada di lemari pendingin tiada lain tiada bukan adalah ketimun. Aku hanya merasa heran, tapi tidak merasa dirugikan karena belanja sayur adalah tugas Ibu. Aku dan Neysha biasanya langsung meninggalkan blok sayur. Tapi hari ini beda, Neysha memborong 4 kilo 7 ons ketimun. Aku ingin memakan ketimun itu sekarang juga. Aku tahu kalau Neysah akan segera membatalkan niatnya untuk berdiet-ria. Sayang, kalau ketimunnya dibiarkan busuk. Tapi ya sudahlah, mungkin kali ini Neysha memang benar-benar ingin diet. Sebagai teman yang baik aku harus mendukungnya.
Kita akhirnya sampai di blok susu. Aku langsung mouth-watering. Aku cinta susu!. Neysha kali ini membeli susu yang low-fat dan aku tentu saja susu coklat. Aku sempat melihat-lihat di bagian ‘ untuk penderita darah tinggi’ semua susu yang di jual berlabelkan ‘ mengandung ekstrak ketimun’. Aneh, rasanya aku belum pernah melihat satupun iklannya di televisi. Lalu aku menanyakannya pada Neysha dia menjawab kalau itu terobosan baru. Canggih, pikirku. Tapi aneh juga, bukankah di negara tropis seperti Indonesia akan sangat mudah menemukan ketimun?. Ah, mungkin orang-orang sekarang enggan makan ketimun. Maklum, sekarang semua orang nampaknya suka yang instant instant dan instant.
Kita bejalan menuju blok minuman bersoda. Aku menepuk-nepuk pipiku, aku takut aku berhalusinasi. Tetapi tidak manjur. 90 persen minuman bertuliskan ‘ mengandung ekstrak ketimun’. Aku hampir mau pingsan saja. Aku tetap berusaha tenang. Mungkin pemerintah sedang menggalakkan program ‘cintailah sayuran’ dan salah satunya subtopik yang dipilih adalah ‘ ketimun, sayuran dan buah dalam satu kemasan’, pikirku. Aku merasa ngeri dan merana. Aku juga berpikir mungkin banyak orang yang punya darah rendah seperti aku akan berpikir kalau hal ini tidak adil dan perlu dilaporkan ke KOMNAS HAM.
Aku sejenak berpikir. Aku takut hal ini hanyalah perasaan takut karena telah makan ketimun terlalu banyak. Mungkin aku hanya butuh istirahat. Tapi, belanja belum usai. Aku dan Neysha berjalan menuju blok makanan ringan. Sama saja, ‘mengandung ekstrak ketimun’. Otomatis aku tidak mengambil satupun dari mereka. Lagian hari ini aku tidak membawa uang. Susu yang akan ku belipun hasil utang. Setidaknya hari ini aku tidak boros, ada hal baik yang bisa dipetik dari kejadian ini.
Akhirnya belanja sudah selesai. Aku masih sangat pusing dan bingung. Betapa tidak, hampir semua barang yang menjadi kesukaanku bertuliskan ‘mengandung ekstrak ketimun’. Oh tidak, aku belum mau mati. Aku belum mengaku dosa. Ayo lanjut!. Kita berjalan menuju kasir. Saat membayarpun tiba. Aku jadi merasa tidak nyaman karena aku berhutang pada Neysha. Aku merasa tambah pusing. Plastik pembungkus barang belanja bertuliskan ‘ Supermarket KETIMUN, kepuasan anda adalah kebahagiaan kami’. Apanya yang puas?!!! Pantas saja seluruh barang bersegel ‘mengandung ekstrak ketimun’. Tapi kok bisa ya?. Sejak kapan supermarket ini berganti nama. Aku merasa bingung. Tapi aku tidak berani menanyakan untuk yang kedua kalinya ‘ kenapa ketimun?’ pada Nesha, jujur, aku takut dikira kuper.
Aku sudah tidak kuat lagi berada di supermarket ini. Harus segera keluar, harus!.
Aku keluar dari supermarket itu dengan 1 tas plastik kecil di tangan kananku. Aku terperangah. Semua orang yang lalu lalang di depanku sedang makan ketimun sambil berjalan. Aku merasa tambah pusing. Lalu aku melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir. Aku mengeluarkan permen jahe di saku jeansku dan memakannya. Tak lama kemudian ada satpam mendatangiku.
“Mbak, maaf mengganggu, lihat papan pengumumannya dong!”, lalu satpam muda itu meninggalkan kami. Sekilas aku melihat papan pengumuman ‘ dilarang makan kecuali makan ketimun’. Apa-apaan ini?, batinku.
” Kamu sih, makanya liat pengumumn dong Mel…. Jadi nggak kena damprat satpam itu. Tapi nggak papa sih, satpamnya manis.”
” Dasar mata keranjang.”
Aku pikir kali ini aku benar-benar butuh isrirahat. Aku pergi ke toilet sebentar untuk cuci muka. Mungkin aku hanya sedang mengantuk. Aku kaget setengah mati lantaran wajahku berubah jadi ketimun bermata dua, punya lubang 2 lubang hidung dan sebuah bibir. Aku menepuk-nepuk pipiku lagi. Kulit ini nyata, serasa seperti kulit ketimun. Oh tidak!!! Ini tidak mungkin. Aku membasuh muka ketimunku dengan air, berharap warna hijau itu dapat hilang. Jauhkan ketimun dariku!!!!
” Mel, Mel, dah nyampe nih, jadi makan sate nggak?”
” Apa?”
” Udah nyampe! Molor lagi! Aku susah-susah nyetir malah ditinggal molor”
” Sorry…”
” Eh, ni tisu, sorry aku sirem pake air mukamu itu. Abisnya dibangunin suah banget, padahal udah aku tampar berkali-kali. Tetep aja molor.”
” Yah…. Make up nya luntur deh…”
Warung sate yang tadi, déjà vu, batinku. Semoga tidak ada ketimun lagi hari ini. tapi di dalam lubuk hatiku yang terdalam masih tergurat kata-kata ” Hidup GPK!!”.

Tinggalkan Balasan